Jumat, 27 Maret 2009

THE PURSUIT OF HAPPYNESS

TUGAS I – MOTIVASI USAHA


FOR HIS SON , ONE MAN WILL REACH FOR THE IMPOSSIBLE THINGS

The Pursuit of Happyness adalah film biografi yang di sutradarai oleh sutradara berkebangsaa Italia, Gabriele Muccino, berdasarkan memoir berjudul sama yang ditulis oleh Gardner bersama Quincy Troupe. Film ini dikatagorikan sebagai dramatic comedy yang diinspirasikan dari kisah nyata seorang pria kulit hitam bernama “ Chris Gardner “ .

Sebelum kita bahas mengenai isi dari film tersebut, coba kita perhatikan lebih cermat tentang judul dari film buatan tahun 2006 dan dirilis tanggal 15 Desember 2007 oleh Columbia Pictures ini. Kalau dilihat dari judulnya memang ada miss spelling deh…dalam penulisannya “ Happyness “ yang seharusnya Happiness. Yah…untuk orang seperti saya sih yang kemampuan bahasa inggrisnya pas-pasan tidak sempat berfikir ada kesalaham dalam spellingnya Sebenernya kesalahan spelling tersebut berasal dari tulisan tempat penitipan anak, tempat Christoper (Jaden Smith) dititipkan. Makna dari “ Pursuit of Happiness” , cocok sekali dengan perjuangan Chris Gardner dan Christoper, anaknya untuk meraih kebahagian dan sangat mendominasi cerita film ini.

Sebenarnya…Siapakah sih Chris Gardner itu???!!!

Chris Gardner adalah seorang pialang saham sangat terkenal di Amerika. Saat ini Chris Gardner menjabat sebagai CEO Gardner Rich LLC. Kesuksesan yang diraih oleh Chris Gadner tidaklah mudah, seperti kebanyakan orang kaya yang sukses lainnya, ia harus melewati berbagai macam kesulitan.

Chris Gardner hanyalah lulusan High School yang bisa dibilang miskin. Berkat kemauan dan usaha yang sangat ulet serta yakin akan sesuatu keberhasilan akan datang dengan kegigihan yang tinggi, maka dia bisa meraih kesuksesannya.

Sinopsis Film

Film ini mengambil latar kota San Fransisco tahun 1981. Chris Gardner (Will Smith), seorang salesman berumur 30-an yang menghabiskan seluruh tabungan Chris dengan pacarnya Linda (Thandie Newton) untuk membeli franchise dan menjual scanner tulang (Bone Density Scanner) portable. Scanner ini menghasilkan gambar lebih baik dari X-ray. Chris Gardner berusaha menjual alat scan itu dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya, dia memiliki target perbulan harus menjual minimum 2 alat scan/bulan untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Ternyata sangatlah sulit untuk dijual, karena kebanyakan dokter yang ditemui Chris beranggapan bahwa harganya terlalu mahal. Sementara itu, pacar Chris , Gardner Linda bekerja sebagai buruh disebuah laundry untuk membantu keluarganya ini. Karena sulitnya untuk mengharapkan dari hasil penjualan alat scan tersebut, Linda terpaksa menambah shift kerjanya.

Gardner Linda semakin tertekan hidupnya karena dia malah menjadi tulang punggung keluarga, karena pacarnya tidak bisa mencukupi hidupnya.

Keluarga kecil ini pun mulai terpecah ketika mereka tidak mampu membayar sewa rumah dan tagihan-tagihan yang semakin menumpuk. Keadaan diperparah oleh kebiasaan Chris yang memarkir mobilnya sembarangan. “ This is part of my life “ teks yang dituliskan film dramatis ini. Chris tidak mampu membayar surat tilang, alhasil mobil tersebut diamankan dan disita.

Karena frustasi, Linda meninggalkan Chris Gardner dan anak tunggalnya, Christoper yang berusia 5 tahun dan pergi ke New York untuk membantu saudara sepupunya dalam bisnis restaurant. Awalnya Linda hendak membawa Christoper, namun ia urungkan niatnya atas permintaan Chris, karena Chris ingin hidup bersamanya.

Kemalangan hidup yang dialami tidak berhenti pasca kepergian pacarnya. Tagihan pajak yang belum dibayar membuat IRS menyita uang tabungan Chris Gardner. Kemudian dia juga diusir dari apartement karena menunggak pembayaran sewa.

Dalam keadaan putus asa, Chris tidak sengaja berjumpa dengan seseorang yang membawa Ferrari warna merah. Chris mengajukan dua pertanyaan kepada lelaki tersebut “ What do you do? And how do you do it ?”, pekerjaan apa yang ia lakukan sehingga mampu membeli mobil mewah? Orang itu menjawab “ I`m stockbroker “, saya seorang pialang saham. Chris pun bertanya “ Had to go to college to be a stockbroker?, lelaki itupun menjawab “ You don’t have to. Have to be good with numbers and good with people”. Sejak saat itu Chris memutuskan untuk berkarir sebagai pialang saham.

Chris Gardner tetap tegar dan mencoba mendaftarkan diri dipelatihan untuk menjadi pialang saham pada perusahaan Dean Witter Reynolds. Pada pelatihan itu Chris tidak mendapatkan bayaran. Chris menerima tawaran magang tanpa dibayar yang menjanjikan pekerjaan bagi peserta magang terbaik. Dia bersama 19 orang peserta lainnya bersaing untuk menjadi satu orang yang akan dinyatakan lulus dan dapat bekerja diperusahaan tersebut. Selain harus belajar dan bekerja magang di kantor Dean Witter, dia masih berusaha menjual scanner yang tersisa untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup dia dan anaknya. Dalam masa magangnya , Chris mulai kehabisan uang.

Akhirnya ia diusir dari apartment dan menjadi tuna wisma. Ia dan anaknya harus hidup berpindah – pindah mulai dari WC umum di Metro Station (Stasuin Kereta) sampai di penampungan sebuah gereja, Glide Memorial Chruch. Penampungan digereja ini sangatlah terbatas, maka mereka harus mengantri setiap hari untuk mendapatkan kamar. Mereka hanya bisa tinggal satu malam dan harus pergi keesokan harinya. Kadang mereka berhasil, kadang gagal dan terpaksa tidur diluar. Kemiskinan dan ke-tunawismaan ini semakin mendorong tekad Chris untuk menjalankan tugas dengan giat untuk bisa bekerja di perusahaan pialang Dean Witter Reynolds.

Akhir dari cerita film ini, sudah pasti “ Happy Ending “, karena kisahnya diinspirasi kisah nyata. “With self-confidence and the love and trust of his son, Chris Gardner rises above his obstacles to become a Wall Street Legend. “ . Chris berhasil menjadi peserta terbaik dan diterima bekerja di sana. Beberapa tahun kemudian, ia mendirikan perusahan pialang sendiri, Gardner Rich. Pada tahun 2006, ia menjual sebagian kecil sahamnya dan berhasil mendapatkan jutaan dolar dari penjualan itu. Banyaknya penderitaan yang dialami oleh Chris Gardner, ditambah usaha kerasnya memang pantas meraih kesuksesannya.

Ulasan

Jadi penasaran bukan tentang cerita dari penulis Steven Concard ini??, Walaupun film lama tapi tidak ada salahnya buat kita nonton, karena menurut saya kisahnya sangat menyentuh sekali. Ada kutipan dari Chris Gardner yang layak untuk di jadikan referensi bagi kita yang sedang dalam usaha untuk meraih sesuatu, khususnya saya.

“ You got a dream, you gotta protect it. People can`t do something themselves, they wanna tell you that you can`t do it. You want something ? Go get It”

Kutipan ini bisa kita jadikan semangat untuk meraih sesuatu, karena tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini selama kita masih berusaha. Ada adegan dimana Chris Gardner mencoba untuk memainkan Rubik`s Cube ini adalah salah satu contoh kecil atas usaha dan kegigihan dari Chris Gardner.

Menurut informasi yang saya baca kata “ Inspired by a true story “ memang kisah filmnya tidak mutlak dengan kisah nyata. Ada beberapa perbedaan antara film dan kenyataannya. Diantaranya mengenai lama pelatihan yang dalam kisah nyatanya berlansung 10 bulan bukan 6 bulan, kemudian usia Christoper waktu itu sebenarnya 18 bulan bukan usia preschool. Selain itu di film di ceritakan bahwa selama pelatihan tidak ada salary sama sekali. Padahal kenyataannya memang tidak ada salary, namun bukan berarti tidak dibayar sama sekali. Para peserta termasuk Chris mendapat $ 1000 per bulannya. Untuk menambah dramatis film ini Gabriele Muccino sengaja membuat cerita ini seperti itu.

“ Will Smith gives the most touching performance of his career “. Yah..memang benar…Will Smith dalam film ini saya akui telah memberikan penampilan yang sangat menyentuh dan saya nilai sangat-sangat bagus. Hampir tidak ada kekurangan dari film ini karena factor kisahnya yang sangat dramatis.




http://images.multiply.com/common/dot_clear.gif